Hmm.. gimana ya mulainya. Bingung nih, yang jelas sih ya, bagi yang pergi ke Anyer pada tanggal 3 - 4 Maret 2012, pasti tau.
Hal ini terjadi secara otodidak saja. Ketika hari jum’at, sehabis kuliah AI, aku pergi nonton film (antara Ghost Rider atau Negeri 5 Menara) bareng teman, seorang penulis juga. Terus dia menawarkan untuk menginap di tempatnya dia, yah di mana dia juga memasak, padahal dia seorang lelaki.
Untuk masalah kenapa aku berani menginap di tempat dia, ya karena aku agak konservatif, dan juga aku agak liberal, jadi selama ngga ngelanggar kepercayaan aku, ya aku mau aja.
Dia memasakkan cumi tumis, rasanya enak, cuma kebanyakan bumbu, dan juga telur dadar yang berisi makaroni. Kenyang! Dan, sembari menunggu Indonesian Idol habis, dia memberi kabar bahwa temannya, yang pernah dia kenalin ke aku ngajakin ke Anyer.
Ini Anyer! Yang sepengetahuan aku sih sangat bersejarah, karena ada lagunya untuk Anyer-Jakarta. Aku yang hari sabtu tidak ada kuliah sama sekali positif mengatakan IYA. Tapi keputusan tidak secepat itu.
Teman aku itu agak ragu, dia ingin ada satu lagi teman kita yang ikut, ya supaya tidak jadi awkward nantinya. Dan, setelah keesokan harinya, ternyata tidak ada yang bisa diajak pergi ke Anyer, ada yang masih kuliah, ada juga yang ada kegiatan lainnya.
Alhasil, kita beraniin diri pergi. Nah, waktu itu pos adalah kost teman kita (dulu cuma teman si Irvan, sekarang jadi teman aku juga). Kita ngumpul di sana, dan kita mencar, satu jemput bang Rian, satu lagi jemput yang lain, dan janji ketemuan di Basecamp.
Basecamp itu cuma sebuah rumah yang jadi singgahan para pemuda tersebut. Mereka itu ternyata anak Band, yang masih mencoba untuk Debut di blantika musik Indonesia.
Nasib malang menyapa aku, Irvan, dan RD (satu lagi teman kita, teman kampusnya Irvan) kita yang sudah menempuh macet ke Cirendeu, dimana Basecamp itu berada, akhirnya disuruh putar balik, dan ketemuan di rest area, untuk langsung pergi ke ANYER!
Konyol. Memang, karena ternyata itu adalah program Kesempatan Ketiga. Yang nantinya akan terjelaskan sendirinya.
Setelah ketemuan di rest area toll Ulujami, kita bingung siapa yang mau bawa mobil mini aku, Kia Picanto. Alhasil, demi kesempatan ketiga itu, di mobil mini aku ada 4 orang, aku, Irvan, RD, dan bang Rian. Sementara itu, di mobil sii_aiee itu cuma dua orang, dia dan pacarnya.
Kita baru jalan dari sana jam 7, dan sampai di Anyer sekitar jam setengah 11. Snack yang kita pilih adalah indomie rebus, untuk malam hari, dan pengganjal selagi ikan dibeli(ntah dibeli di mana, yang jelas waktu itu malam hari).
Makan udah selesai, dan sekitar jam 1 dini hari, rombongan selanjutnya datang. Awalnya memang masih agak kagok, masih belum kenal satu sama lain. Aku sebagai pendatang baru, ngga kenal siapa-siapa, cuma bisa diam, dan mengikuti pembicaraan yang terjadi.
Mulai kenalan, ada Ayu, adan Lian (aku pikir orang china), terus pasangan mereka, serta dua orang lelaki yang tidak membawa pasangan. Benar! Kalau kalian liat pasti sudah berfikir macam-macam. Oh iya, di villa itu ada tiga kamar aja.
Hari itu sudah hari minggu, kita tidur jam 5, karna mereka, yang baru aku kenal itu begitu kocak, seakan nyaman sama mereka, bahkan aku bersikap biasa sama mereka, seperti ngga takut terjadi apa-apa.
Bang Rian yang bawa kamera, tapi tidak bawa charger, akhirnya bungkam, Sony alpha-290 akhirnya beraksi dengan lensa tele 75-300. Dan yah, hasil yang aku dapat adalah menghitam gara-gara main di pantai.
Eits, masih ada lagi nih…Kesempatan ketiga itu belum juga tercapai, malah berakhir dengan uraian air mata yang dikeluarkan oleh RD. Terus, di siang hari itu, ketika sebelum membeli makan siang, aku jadi objek (bisa dikatakan model) oleh seseorang yang tidak memiliki pasangan tersebut.
Dan, si Bang Rizky(pasangan ka Lian) mulai ngecengin kita. Dan waktu itu juga ntah kenapa aku ngga keberatan dicengin, benar-benar aneh.
Ketika pulang, sebenernya aku mau ajak si cowo itu satu mobil, tapi karna gengsi, akhirnya tidak jadi… dan ntah kenapa pas malam itu aku ngerasa ada perpisahan, yang terjadi…dan awal dari sebuah cerita baru.
Bukan mencari kesempatan ketiga, tapi bagaimana kita saling mengerti satu sama lain, dan saling mendukung satu sama lain.
—to be continued—